NasionalPolitik

Gerindra: Rangkaian Blunder Politik, Pertanda Jatuhnya Sang Petahana

Gerindra: Rangkaian Blunder Politik, Pertanda Jatuhnya Sang Petahana (kanalutama.com)Gerindra: Rangkaian Blunder Politik, Pertanda Jatuhnya Sang Petahana

Para menteri, ketua umum partai pendukung petahana dan para pendukungnya dalam beberapa hari terakhir telah membuat blunder besar. Sehingga pekan lalu, menurut pengamat disebut sebagai pekan blunder nasional untuk calon presiden petahana.

Blunder tersebut dimulai dari Menpora dan Menkominfo yang membuat polemik di masyarakat atas pernyataannya, kemudian ditambah pula dengan kelakukan Ketum PPP, M Romahurmuziy terkait doa Mbah Moen serta ucapan Ketua BTP Mania yang menyebut wisatawan 212.

Tidak hanya itu, masih ditambah pula dengan ucapan capres pertahanan sendiri mengenai Propaganda Rusia yang juga menyulut reaksi di masyarakat. Dan terakhir, pekan itu ditutup dengan penyematan Jokowi “Cak Jancuk” oleh pendukungnya sendiri di Surabaya, Sabtu (2/2).

Menanggapi hal tersebut, Waketum Partai Gerindra Ferry Juliantono menyebut rangkaian peristiwa ini sebagai pertanda kejatuhan sang petahana di 17 April 2019 mendatang.

Gerindra: Rangkaian Blunder Politik, Pertanda Jatuhnya Sang Petahana
Gerindra: Rangkaian Blunder Politik, Pertanda Jatuhnya Sang Petahana

“Menurut saya fenomena belakangan ini yang terjadi pada Pak Joko Widodo memang menunjukkan bahwa “pulung” atau wahyu cakraningrat atau momentumnya sudah bukan di dia,” ujar Ferry dalam pesan elektroniknya, Selasa (5/2).

Dalam falsafah Jawa, wahyu cakraningrat atau wahyu keperabon merupakan wahyu kepemimpinan yang melekat pada seorang pemimpin. Masyarakat Jawa mempercayai jika wahyu ini lepas dari seorang pemimpin maka kejatuhan tinggal menunggu waktu.

Ferry pun menyebut peristiwa-peristiwa fenomenal belakangan ini melengkapi tanda-tanda hilangnya wahyu tersebut. Dalam konteks kekiniannya dapat disebut sebagai blunder politik.

“Selain soal jancuk, kemarin Kiai Maimoen Zubair juga mendoakan yang salah dan pernyataan presiden juga blunder banget soal tuduhan Rusia, soal dia sebagai presiden diserang sana sini,” pungkasnya.

Karena itu, menurut Gerindra rangkaian blunder politik yang dilakukan kubu petahana sebagai tanda jatuhnya sang petahana. Masyarakat pun semakin cerdas untuk bisa menilai apa yang terjadi saat ini. Bahwa apa yang dilakukan kubu petahana sebagai bentuk kepanikan yang pada akhirnya membuat blunder di kubunya sendiri.