NasionalOpiniPilpres 2019Politik

PRABOWO DIANTARA UAS DAN SANDI

PRABOWO DIANTARA UAS DAN SANDI

“Bisa saja mengambil ulama.. tapi saya tau disana sudah ada ayahanda Ma’aruf Amin.. jadi lebih baik saya tidak maju jika ummat Islam harus terbelah.. bukan saya tidak menghormati Ijtima.. tapi saya ingin Indonesia satu.” (Prabowo Subianto, 9 Agustus 2019)

Kata-kata jendral Prabowo tersebut menjadi viral menjadi pembahasan netizen. Banyak pihak berusaha mengurai kata demi kata untuk memahami makna kata Prabowo tersebut.

Setelah tidak mempannya rayuan berkali-kali utusan Prabowo hingga para ulama untuk merayu UAS termasuk HRS sekalipun. Isu yang beredar mkeluarga UAS diancam keselamatannya oleh pihak yang tidak dikenal, namun isu ini hingga sekarang belum di klarifikasi oleh UAS.

Penolakan UAS ini memang merepotkan semua orang karena pembahasan di koalisi juga jadi terhenti. Prabowo harus berpikir keras calon pendamping yang bisa diterima oleh semua pihak. Dan sandi menjadi pilihan karena berbagai pertimbangan dan salah satunya adalah sandi merupakan salah satu yang ada di daftar rekomendasi sebagai calon alternatif jika sekiranya UAS dan USS tertolak.

Namun memang masuknya kyai Ma’ruf Amin potensi polarisasi perpecahan umat sangat tinggi. Sehingga setelah Prabowo berdiskusi dengan HRS diputuskan diambil tokoh yang masuk dalam daftar rekomendasi namun diluar ulama. Disini HRS dan Prabowo berpikir keras bagaimana menghindari potensi kerusakan didalam umat, karena bagaimanapun jika dipaksakan dari pihak ulama maka kekejian media dan buzzer jahat mengadu-domba akan sangat dahsyat. Dan kita tidak pernah tahu, kerusakan seperti apa yang akan terjadi dan bagaimana merajutnya kembali. Anda bisa bayangkan adu domba Muhammadiyah NU dimasa lalu bahkan masih terasa hingga sekarang.

Disini kualitas Prabowo dan HRS patut diacungin jempol, mereka lebih memilih persatu bangsa dan kesatuan umat. Mereka sudah mengkalkulasi bahwa pihak sebelah akan main kasar dan kejam yang penting menang tanpa perduli efek dari kemungkinan kerusakan jika antara ulama dan ulama di adu.

Prabowo sangat menghormati Ma’ruf Amin dengan memanggil “Ayahanda” dalam pidatonya dan berusaha menghindari kemungkinan-kemungkinan efek alamiah dari perdebatan atau singgungan tidak perlu di dalam kampanye nanti yang pada akhirnya akan memunculkan pengkerdilan atau ketidakhormatan terhadap kyai ma’ruf amin. Meski prabowo selalu menekankan kampanye damai dan sejuk, namun di dunia maya ataupun di akar rumput apa saja bisa terjadi.

PRABOWO DIANTARA UAS DAN SANDI

Prabowo sadar betul bahwa jika dia memilih salah satu ulama di rekomendasi ijtima ulama maka potensi benturan juga akan terjadi karena dipilihnya kyai sepuh kita Ma’ruf Amin hanya untuk menggiring suara umat setelah 4 tahun terus menerus di dzolimi. Politik memang keji, namun itu hanya bagi orang-orang keji. Dan prabowo melarang melakukan hal tersebut.

Keputusan memilih Sandi adalah keputusan cerdas. Seketika satu masalah terurai,yaitu perpecahan umat terhindarkan. Masalah kedua juga terurai dimana koalisi tidak terpecah dan menerima meski jaminan pembiayaan kampanye harus ditanggung sandi dan sandi menyanggupi (Hal ini wajar, partai tidak mau keluar biaya besar jika bukan kadernya yang maju). Masalah ketiga juga terurai, kewajiban mengikut ijtima ulama karena sandi masuk dalam ijtima ulama meski bukan dari seorang ulama. Dan InsyaAllah masalah lainnya akan terurai khususnya berkaitan dengan bidang ekonomi karena baik Prabowo maupun Sandi adalah sangat ahli dibidang ekonomi ketika mereka memperoleh amanah.

Keputusan memilih Sandi adalah keputusan semua pihak , khususnya HRS yang terus memantau situasi di tanah air. Dan UAS…beliau siap mendampingi Prabowo Sandi memperoleh kemenangan. Allahu Akbar!

Niat lurus, memperbaiki dan mempersatukan negeri ini adalah niat kita semua. Prabowo sudah menunjukkannya bahkan sebelum pertandingan dimulai.

Salut Jenderal!

InsyaAllah, Engkau tidak sendiri.